Pada hari Kamis, 25 Agustus 2016,
saya beserta kedua orangtua saya pergi ke Jawa Tengah untuk menelusuri sejarah
bangsa Indonesia. Tujuan pertama kami adalah Candi Borobudur, sebuah candi peninggalan
Wangsa Syailendra. Kami berangkat dari rumah nenek saya di Jakarta Timur pada
pukul 06.30 WIB dengan mobil sewaan dari Bandung. Kami membawa bekal lontong
untuk dimakan di sepanjang perjalanan supaya tidak menghabiskan waktu untuk
berhenti di restoran. Rute yang kami lewati untuk menuju Candi Borobudur adalah
Jakarta – Tol Jakpek – Tol Cipali – Tol Palikanci – Tol Bakrie – Tol Brebes
Timur – Tegal – Pemalang – Pekalongan – Banjarnegara – Wonosobo – Purworejo –
Salaman – Borobudur, sebuah rute yang melewati dataran rendah dan dataran
tinggi. Selama di perjalanan, kami beristirahat beberapa kali, baik untuk buang
air kecil maupun untuk mengisi BBM. Kami juga dihadapi dengan kekacauan lalu
lintas (kemacetan) di beberapa titik di sepanjang perjalanan. Sungguh, itu adalah perjalanan yang sangat melelahkan, karena melewati daerah peunungan dan sang pengemudi (bapak saya) harus menghadapi 'setan' jalan raya, yaitu truk besar yang jalannya lama seperti keong. Kami akhrirnya tiba di
Borobudur pada pukul 20.30 WIB, tepatnya di Hotel Cempaka Villa. Setelah tiba
di hotel, kami menempatkan barang bawaan kita di kamar hotel, lalu kami
meninggalkan hotel untuk makan di sebuah rumah makan Padang. Kami makan di rumah makan tersebut karena pada waktu itu, pukul 20.30 WIB, semua rumah makan yang ada di sana titul kecuali satu. Di sana makanannya enak, ya terang saja, karena terpaksa makan apa juga enak. Setelah kembali ke hotel dan langsung
tidur
Pada hari Jum’at, 26 Agustus 2016, dalam keadaan mengantuk, kami meninggalkan hotel tempat kami menginap pada pukul 04.30 WIB untuk melihat matahari terbit di Candi Borobudur. Kami berjalan kaki dari hotel tempat kami menginap menuju Hotel Manohara untuk memulai perjalanan menuju Candi Borobudur. Di sana, kami mendapatkan senter gratis karena di Candi Borobudur tidak ada penerangan. Kami tiba di lokasi pada pukul 05.00 WIB. Di lokasi, rata-rata wisatawan yang berkunjung ke sana pada saat matahari terbit adalah wisatawan asing, baik kulit putih maupun Tionghoa. Di lokasi, pada waktu fajar, udara di sekitar candi Borobudur masih berkabut dan Borobudur masih sangat sepi pengunjung, paling hanya satu dua. Semakin mendekati waktu matahari terbit, kabutnya berangsur-angsur semakin menghilang. Sungguh, matahari terbit di Borobudur adalah pemandangan yang menakjubkan.
Kami meninggalkan
lokasi pada pukul 07.45 WIB dalam keadaan lapar, lalu kami berjalan kaki menuju Hotel Manohara
untuk mengembalikan senter dan membeli souvenir berupa replika Candi Borobudur
dari batu yang diambil dari Merapi. Setelah beristirahat sejenak di kafe Hotel
Manohara untuk mengambil snack gratis, kami berjalan kaki menuju hotel tempat
kami menginap untuk sarapan pagi.
Setelah sarapan
pagi, kami kembali ke kamar hotel dalam keadaan lelah dan mengantuk pada pukul 10.00 WIB, lalu kami beristirahat dan tidur sejenak sampai tiba waktunya sholat Jum’at. Setelah tiba waktunya sholat Jum’at,
saya dan bapak saya pergi ke Masjid Al-Ikhlas yang berada di sebelah TK
Muhammadiyah untuk menunaikan ibadah sholat Jum’at. Kami meninggalkan tempat sholat Jum’at pada pukul 12.30 WIB, lalu
kami meninggalkan hotel pada pukul 12.40 WIB. Tujuan pertama kami adalah Camera
House, sebuah 'art gallery' yang berupa rumah aneh berbentuk kamera DSLR yang terletak 2 km dari Candi
Borobudur, di sana kami berfoto-foto sejenak, tetapi tidak masuk ke dalam
bangunan yang disebut ‘Camera House’.
Setelah meninggalkan Camera House, kami berangkat menuju Candi Pawon (candi kecil peninggalan Wangsa Syailendra) tetapi kami berhenti dulu di warung untuk membeli minum. Kami tiba di Candi Pawon pada pukul 13.30 WIB. Di sana, kami tidak mengambil foto banyak-banyak karena candi tersebut adalah candi kecil, mangkannya bapak saya tidak turun dari mobil.
Setelah meninggalkan Candi Pawon, kami berangkat menuju Candi Mendut (candi kecil peninggalan Wangsa Syailendra). Candi Pawon dan Candi Mendut memang berdekatan, makannya kami tiba di Candi Mendut pada pukul 14.00 WIB. Candi tersebut masih dipakai sembahyang oleh umat Buddha, bahkan saya melihat dengan mata kepala sendiri ada orang yang bersembahyang. Di sana, kami tidak mengambil foto banyak-banyak karena candi tersebut adalah candi kecil, tetapi tidak terlalu kecil.
Setelah meninggalkan Candi Mendut,
kami mencari rumah makan sampai berkeliling Borobudur dan akhirnya kami
menemukan sebuah rumah makan kecil di tepi jalan menuju Magelang. Kami makan
siang di rumah makan tersebut. Setelah selesai makan di sana, kami meninggalkan
lokasi pada pukul 15.30 WIB. Tujuan kami setelah itu adalah Semarang. Rute yang
kami lewati untuk menuju Semarang adalah Borobudur – Jalan Soekarno
Hatta – Blondo – Magelang – Secang – Pringsurat – Ambarawa – Bawen – Tol Semarang-Bawen – Semarang,
sebuah rute yang melewati jalan besar. Selama di perjalanan, kami beristirahat satu
kali saja, yaitu di sebuah SPBU antara Magelang dan Secang, untuk mengisi BBM. Perjalanan waktu itu sangat menegangkan, karena bapak saya ngebut terus di jalan dan ibu saya khawatir takut ada kecelakaan. Setelah hampir tiga jam melintasi dataran rendah dan dataran tinggi, kami
akhrirnya tiba di sebuah SPBU di Semarang untuk buang air kecil. Setelah
meninggalkan SPBU, kami berangkat menuju Jalan Pandanaran untuk membeli
oleh-oleh khas Jawa Tengah. Karena bawa mobil sendiri, kami membeli oleh-oleh dalam jumlah banyak. Setelah selesai membeli oleh-oleh, kami makan di
salah satu warung yang berada di Jalan Pandanaran.
Setelah selesai makan di salah satu warung yang berada di Jalan Pandanaran, kami berangkat menuju Lawang Sewu (bangunan bersejarah bekas kantor kereta api pada zaman Belanda). Di Lawang Sewu, kami melihat banyak sekali pengunjung, semuanya orang Indonesia. Setelah tiba di Lawang Sewu pada pukul 21.30 WIB. Tidak jauh dari Lawang Sewu ialah Tugu Muda (tugu peringatan perjuangan kemerdekaan Indonesia). Di malam hari, warna lampu di Tugu Muda selalu berubah-rubah. Sungguh, itu pemandangan yang menakjubkan.
Setelah kami meninggalkan lokasi pada pukul 22.30 WIB, kami berangkat menuju Hotel Djajanti House. Setelah tiba di hotel, kami menempatkan barang bawaan kita di kamar hotel, lalu langsung tidur, karena kami sudah super ngantuk.
Pada hari Sabtu, 27 Agustus 2016, kami bangun telat karena terlalu lelah, lalu kami mandi, lalu sarapan pagi pada pukul 09.30 WIB. Setelah selesai sarapan pagi, lalu kami meninggalkan hotel pada pukul 10.45 WIB. Setelah meninggalkan hotel, tujuan kami adalah Brown Canyon (bekas situs pertambangan batu yang nantinya akan menjadi kebun binatang) Rute yang kami lewati untuk menuju Brown Canyon adalah Jalan Semarang - Surakarta – Jalan Teuku Umar – Jalan Tol Semarang – Jalan Majapahit – Mranggen – Jalan Jatikusumah Raya – Jalan Ungaran – Mranggen – Brown Canyon. Di perjalanan, kami berhenti sejenak di sebuah minimarket untuk buang air kecil. Kami tiba di Brown Canyon pada pukul 11.45 WIB. Ketika tiba di Brown Canyon, saya melihat susunan bebatuan yang menakjubkan seperti di Grand Canyon Amerika sana. Sayangnya, batu-batu itu tidak akan bertahan lama karena tempat itu nantinya akan menjadi kebun binatang. Waktu itu, hawanya sangat panas seperti di neraka, tetapi itu bisa terbayarkan dengan pemandangan yang indah.
Kami
meninggalkan Brown Canyon pada pukul 14.20 WIB, lalu kami berangkat menuju Kota
Kudus (sebuah kota di utara Jawa Tengah yang menjadi pusat penyebaran agama
Islam di Pulau Jawa). Rute yang kami lewati untuk menuju Kota Kudus adalah
Jalan Sarwo Edi Wibowo – Jalan Majapahit – Jalan Sukarno-Hatta – Jalan Wolter
Monginsidi – Genuk – Demak – Kudus. Di perjalanan, kami tidak berhenti sama
sekali. Kami tiba di Kota Kudus pada pukul 16.20 WIB. Tujuan pertama kami di
Kota Kudus adalah Masjid Menara Kudus, yaitu sebuah masjid kuno yang dibangun
oleh Sunan Kudus pada abad ke-16.
Setibanya kami
di Masjid Menara Kudus, kami langsung menunaikan ibadah sholat Ashar. Setelah
slesai sholat Ashar, kami berfoto-foto ria di Masjid Menara Kudus. Di sana kami
mengambil foto sebanyak-banyaknya sembari menunggu waktu sholat Maghrib. Masjid Menara Kudus adalah perpaduan antara arsitektur Jawa dan Islam yang serasi, karena di sana terdapat kolam wudhu, gapura dan menara masjid mirip candi. Setelah selesai sholat Maghrib, kami langsung berangkat menuju Tugu Identitas Kudus. Kami berangkat meninggalkan lokasi Masjid Menara Kudus pada pukul 18.10
WIB.
Setelah
meninggalkan lokasi Masjid Menara Kudus, kami berangkat menuju Tugu Identitas
Kudus. Karena banyak verboden (rambu-rambu larangan), perjalanan kami antara kedua
tempat tersebut cukup lama, akhirnya kami tiba di lokasi pada pukul 19.00 WIB. Setelah
tiba di lokasi, kami berjalan kaki menuju sebuah pusat perbelanjaan bernama Kudus
Extension Mall. Di Kudus Extension Mall, kami mencari beberapa rumah makan,
lalu kami keluar dari pusat perbelanjaan untuk berfoto-foto ria di Tugu
Identitas Kudus.
Kami kembali
masuk ke pusat perbelanjaan, lalu kami makan di rumah makan yang menyediakan
sukiyaki (rebus-rebusan khas Jepang) karena di pusat perbelanjaan itu tidak ada yang menyediakan makanan tradisional Kudus. Setelahi makan, kami tidak lupa ke
toilet untuk buang air kecil. Setelah itu, kami meninggalkan lokasi pada pukul
20.30 WIB, lalu kami langsung berangkat menuju Hotel Amantis Demak. Rute yang
kami lewati untuk menuju Hotel Amantis Demak adalah Jalur Pantura. Selama di
perjalanan, kami beristirahat satu kali saja, yaitu di sebuah SPBU antara Kudus
dan Demak, untuk mengisi BBM. Setelah hampir satu jam melintasi jalan besar,
kami akhrirnya tiba di Hotel Amantis Demak pada pukul 21.30 WIB.
Pada hari Minggu,
28 Agustus 2016, kami bangun pada pukul 07.30 WIB, lalu kami mandi. Setelah
selesai mandi, kami sarapan pagi di hotel. Setelah itu, kami kembali ke kamar
hotel untuk mengambil kopor-kopor untuk dibawa kembali ke Jakarta. Lalu kami
berangkat ke Masjid Demak (sebuah masjid bersejarah) pada pukul 09.45 WIB. Rute
yang kami lewati adalah Lingkar Selatan Demak – Jalan Sunan Kalijaga – Jalan
Kyai Turmudzi – Alun-alun. Kami tiba di Masjid Agung Demak pada pukul 10.00
WIB.
Di Demak,
hawanya sangat panas karena berada tidak begitu jauh dari laut. Di lokasi
Masjid Agung Demak, kami mengambil foto sebanyak-banyaknya. Lokasi tersebut bukan
hanya sekedar masjid besar, tetapi ada peninggalan kolam yang dipakai untuk
berwudhu. Bukan hanya kolam wudhu, di sana juga ada museum yang menyimpan
tentang sejarah Masjid Agung Demak dan benda-benda barang bukti penyebaran
agama Islam di Pulau Jawa.
Pada pukul
11.20 WIB, kami meninggalkan lokasi Masjid Agung Demak, lalu kami berangkat
menuju Pantai Morosari. Rute yang kami lewati untuk menuju Pantai Morosari adalah Jalur Pantura. Kami
tiba di Pantai Morosari pada pukul 12.00 WIB. Di sana, hawanya sangat panas seperti di neraka karena berada dekat laut dan tidak jauh dari kawasan industri. Pantai Morosari letaknya
tidak terlalu jauh dari hutan bakau.
Kami meninggalkan Lawang Sewu untuk kembali ke Jakarta pada pukul 15.00 WIB. Rute yang kami lewati untuk menuju Jakarta adalah Semarang – Kaliwungu – Kendal – Weleri – Alas Roban – Batang – Pekalongan – Pemalang – Tegal – Brebes Timur – Tol Pejagan – Tol Bakrie – Tol Palikanci – Tol Cipali – Tol Jakpek - Jakarta, sebuah rute yang melewati jalan besar. Selama di perjalanan, kami beristirahat beberapa kali, baik untuk buang air kecil maupun untuk mengisi BBM. Kami juga dihadapi dengan kekacauan lalu lintas (kemacetan) di beberapa titik di sepanjang perjalanan. Di tengah jalan, kami berhenti di rumah makan Pringjajar (antara Pemalang dan Pekalongan). Bukan hanya itu, kami juga beristirahat untuk tidur di salah satu tempat peristirahatan di Jalan Tol Cipali. Sungguh, itu perjalanan yang super melelahkan karena harus bermacet-macet dengan 'setan' jalan raya. Sampai akhirnya kami tiba di Jakarta dengan selamat pada pukul 05.30 WIB.










